ARTIKEL TERBARU

KONPERS PENAHANAN TSK DUGAAN TPK PEMBANGUNAN JALAN LINGKAR BARAT, DURI BENGKALIS

Gambar
Diduga melanggar ketentuan Pasal 118 ayat (1) dan (6) Peraturan Presiden nomor 54 tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/jasa Pemerintah dan perubahannya yang berbunyi: (1) Perbuatan atau tindakan Penyedia Barang/Jasa yang dikenakan sanksi adalah: berusaha mempengaruhi Kelompok Kerja ULP/Pejabat Pengadaan/ pihak lain yang berwenang dalam bentuk dan cara apapun, baik langsung maupun tidak langsung guna memenuhi keinginannya yang bertentangan dengan ketentuan dan prosedur yang telah ditetapkan dalam Dokumen Pengadaan/Kontrak, dan/atau ketentuan peraturan perundang-undangan; melakukan persekongkolan dengan Penyedia Barang/Jasa lain untuk mengatur Harga Penawaran diluar prosedur pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa, sehingga mengurangi/menghambat/ memperkecil dan/atau meniadakan persaingan yang sehat dan/atau merugikan orang lain; membuat dan/atau menyampaikan dokumen dan/atau keterangan lain yang tidak benar untuk memenuhi persyaratan Pengadaan Barang/Jasa yang dite

BISNIS DISEPUTAR TENDER KONSTRUKSI


Apabila dibandingkan dengan Pedoman Persyaratan tender konstruksi yang diatur oleh 
World Bank, Asian Development Bank dan Islamic Development Bank maka Standar Pedoman Tender Konstruksi di Indonesia tergolong yang paling ribet. Dalih sulitnya syarat tersebut dikatakan bertujuan untuk menjamin Kualitas PBJ bisa dikatakan hanya klise saja karena terbukti pada faktanya banyak proyek yang mangkrak, jadi monumen dan berujung masalah hukum.

Sebagai pemerhati PBJ, tentunya ini menjadi menarik untuk diteliti apa yang sebenarnya terjadi. Sebagai langkah awal, saya pernah menghitung biaya yang diperlukan untuk memenuhi syarat-syarat ribet tersebut kira-kira Penyedia butuh berapa? Selidik punya selidik, ternyata untuk mengikuti tender konstruksi di Indonesia, penyedia bisa mengeluarkan biaya berkisar 7 sampai 10 persen dari HPS paket tender yang diikuti….wah besar juga yak. Kalo begini rasanya seperti menebak mana duluan ada, Ayam atau telor! mana duluan ada Tender yang Ribet atau Bisnis nya yang besar. Teman-teman mungkin bisa menemukan jawabannya sendiri dengan membaca Kuncian-kuncian maut pada artikel saya sebelumnya dan membandingakannya terhadap jenis-jenis Bisnis yang mendukung pemenuhan syarat-syarat tender sebagai berikut ini:

 

 I.    PASAR FORMAL.

Pasar ini sangat nyata dan resmi bahkan sudah berlangsung bertahun-tahun antara lain

1.     Pasar pembuatan SKK (SKT/SKA) dan SBU

    Pasar ini adalah Pasar Monopoli yang dikuasai oleh LPJK, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat Konstruksi yang berafiliasi dengan KemenPUPR. Untuk membuat SKK, biasanya Tenaga Terampil/Ahli harus mendaftar dulu di Asosiasi Tenaga Kerja. Setelah membayar kewajiban anggota barulah bisa mengurus sertifikat melalui proses seleksi Administrasi. Penyedia kena biaya lagi tergantung kualifikasi dan klasifikasi SKK yang diminta. Penyedia membutuhkan SKK ini demi untuk mengurus Sertifikat Badan Usaha (SBU) dan Memenuhi persyaratan Tender. Dalam menjalankan Bisnisnya tercatat ada sekitar 60 an Asosiasi yang menjadi mitra bisnis LPJK diseluruh Indonesia.

       Untuk membuat SIUJK, penyedia harus memiliki sertifkat badan usaha (SBU) terlebih dahulu, tetap LPJK juga namun partner bisnisnya adalah Asosiasi Konstruksi. Untuk bisa mendapatkan SBU maka Penyedia harus menjadi salah satu Anggota Asosiasi, yang telah memenuhi kewajiban iuran anggota tentunya. Selain itu, Penyedia juga dikenakan tarif yang beragam tergantung Kualifikasi dan SubKlasifikasi yang diurus. Saat ini terdapat 80an Asosiasi Badan Usaha yang menjadi Rekanan bisnis LPJK yang terdaftar di Indonesia. 

        Selain biaya-biaya diatas, catatan penulis, Penyedia juga pernah terpaksa mengeluarkan biaya extra dengan alasan Konversi dan Registrasi Ulang. Kabar baiknya, menurut UU 02/2017 seharusnya ditahun ini bisnis tersebut sudah dikuasai Pemerintah sepenuhnya dimana keuntungan bisnis ini akan dimasukkan ke negara sebagai PNBP (Penghasilan Negara Bukan Pajak). Untuk Value bisnis Kertas ini akan coba saya bukakan di artikel berikutnya.

2.     Pasar Sertifikasi Management (ISO/SMK3 dan GREEN BUILDING)

Pasar ini dikuasai banyak Lembaga Swasta dan satu BUMN. Biayanya sangat besar sekitar 100 jt-an, belum lagi pemeliharaan rutin pertahun dalam bentuk Audit. Uniknya kebanyakan sertifikasi ini adalah lisensi dari Negara luar yang tentunya harus dibayar juga.   

3.     Pasar pelatihan dan solusi bisnis Tender E-Proc.

Sangkin ribetnya proses pemilihan, seluruh pelaku PBJ sering kewalahan, ditambah lagi hampir tiap tahun regulasi berubah. Regulasi yang lama saja belum dikuasai sudah muncul regulasi baru, belum lagi terkait tools E-Proc yang pengembangan teknisnya tidak secepat perubahan regulasinya. Ketidak singkronan tiga pilar antara ‘Regulasi-SPSE-SDM’ menimbulkan Asimetris Informasi dan menjadi peluang bisnis yang nyata, disaat inilah banyak para entrepreneur menawarkan solusi pelatihan, pedampingan dan solusi berbasis IT.

4.     Surat Dukungan Keuangan dan Jaminan Penawaran

Sering dipersyaratkan Dukungan keuangan dari bank, untuk ini penyedia harus membayar tarif yang ditentukan oleh Bank. Lebih menarik lagi bisnis Penerbitan Jaminan, Penyedia harus memiliki sejumlah dana yang proporsional sesuai besaran yang dijaminkan tentunya ditambah biaya pengurusan sertifikatnya. Jika tidak ada dana cash, ada juga sektor bisnis asuransi yang siap mengcover, walaupun biayanya tinggi namun Penyedia lebih banyak mengambil pilihan ini atau sekalian Jaminannya diambil dari Perusahaan Asuransi.

5.     Pembuatan Laporan Keuangan

Bisnis ini untuk Badan Usaha kelas besar dikuasai oleh Kantor Akuntan Publik. Namun untuk perusahaan kecil/menengah tetap dibutuhkan untuk mengurus SBU ataupun mengurus Pinjaman ke Bank

 

II.       PASAR INFORMAL

1.     Pengurusan SIUJK/SBU/SKK dll.

Peluang ini menjadi bisnis menggiurkan, seringnya penambahan syarat diluar standar membuat Penyedia yang bukan jagoan berpikir keras untuk memenuhi syarat tersebut. Disaat seperti ini bermunculanlah pasar informal yang bisa mengurus izin/dokumen yang diminta sesuai waktu dan kebutuhan.

2.     Rental PERUSAHAAN dan SKK

Banyak Perusahaan yang secara Administrasi berjalan normal namun secara teknis orang lain yang menjalankannya. Biasanya Perusahaan tersebut disewakan karena memiliki syarat administrasi yang lengkap, memiliki pengalaman dan KD yang cukup. Bisnis seperti ini saat sekarang dijalankan dengan berprinsip TRUST satu sama lain. Karena memang perusahaan Rentalan, pastinya Tenaga Terampil/Ahli juga rentalan juga. Saat ini berkembang juga bisnis khusus Rental SKK dengan slogan lengkap dan siap didatangkan. Pebisnis ini biasanya takut dokumen softcopynya dipakai tanpa dibayar jadi pada setiap dokumen diberi Marking khusus sesuai nama paket yang disepakati. Pasar Informal Rental SKK ini sudah bisa dikategorikan Pasar semi fomal karena keberadaannya sudah terang-terangan beriklan di daring sosial.

6.     Jual Beli Surat Dukungan

Adanya persyaratan Peralatan Sewa sudah harus memiliki Perjanjian sewa menyewa meskipun tender belum pasti menang membuat para pemiik alat yang kebanyakan justru Penyedia Rental melihat peluang ini. Tarifnya tidak begitu mahal, namun disaat klarifikasi Penyedia harus mengeluarkan kocek lebih dalam lagi karena biasanya Pemberi Dukungan alat tidak dipakai atau diganti disaat pelaksanaan kontrak.

3.     Jasa Permodalan

Selain perbankan, banyak juga jasa ditawarkan oleh perorangan. Selain bunga yang tinggi dan kontrol yang ketat, pemberi jasa biasanya menahan dokumen kontrak asli dan konfirmasi informal ke PPK. Bisnis ini menjamur tak kala banyak Penyedia Kecil yang permodalannya hanya 500 jt kebawah ternyata mendapat proyek sampai 10 Milyar.

4.     Jasa Pembuatan dan Upload Dokumen Penawaran

Bisnis ini dikuasai oleh pasar informal perorangan yang iklannya dari mulu ke mulut.  Biasanya jasanya mulai dari membuat Metode Kerja dan RAB bahkan sampai ikut mengupload dokumen penawaran.

 

    Dari besarnya Biaya yang dikeluarkan untuk Pasar Formal/Informal tersebut mari kita membayangkan jika tender diikuti 3 peserta, maka biaya yang hilang untuk kedua peserta yang kalah bisa menghabisakan 14% s/d 20% dari HPS karena hanya 1 Penyedia yang dinyatakan pemenang, bagaimana jika pesertanya ada 10….lantas Ekonomiskah tender konstruksi ini, dimana letak efisiennya, mau ngeles tender berjalan efektif tidak juga tuh, tanya aja KPK. Bukankan PS 16/18 mengamanatkan prinsip Value of Money? Sekian terimakasih

 

 

Salam Kebijakan Publik Pengadaan Barang Jasa

Perhatian : 
Seluruh atau sebagian dari konten ini sangat memungkinkan menjadi bagian dari makalah, tesis atau Disertasi saya terkait Kebijakan Publik, mohon mengkomunikasikan kepada saya apabila hendak dipakai di forum resmi demi menghindari Praktek Plagiatisme. Terimakasih.

 

 


POPULAR POSTS

PMPUPR 06/2021 : SBU TERBARU DAN KAJIANNYA TERHADAP ATURAN LAIN

Ketentuan perizinan Sertifikat Badan Usaha (SBU)

PM PUPR 08/22 serta Perpanjangan Masa berlaku SBU/SKK

Ketentuan perizinan Sertifikat Kompetensi Kerja (SKK)

IUJK RESMI DIHENTIKAN & SBU BERUBAH